Senin, 07 Februari 2011

Pertikaian Mengenai Tabiat Kristus dan Hasil Konsili Chalcedon (451M)

Tulisan ini ditulis oleh Angela Debora M. Pontororing
sebagai Paper Sejarah Kekristenan Umum
BAB I
PENDAHULUAN
            Sejak awal perkembangannya, gereja sudah tertantang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkisar tentang identitas dan tabiat Yesus Kristus. Hal ini tidak dapat dihindari oleh gereja, mengingat bahwa Yesus dan karya keselamatan-Nya di kayu salib adalah dasar dan sekaligus pusat dari iman kristen. Orang-orang kristen selalu mengklaim bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam diri Yesus yang membuatnya berbeda dari tokoh agama-agama lain[1]. Tapi apa sebenarnya keistimewaan itu? Para pemimpin gereja zaman dulu mulai berusaha untuk menjawab hal tersebut dengan menggunakan berbagai sarana dan cara yang berbeda-beda, setelah gereja berhasil melewati berbagai tantangan dari luar.
            Dari berbagai pertanyaan yang ada tentang Kristus, terdapat dua hal yang paling menonjol dan dianggap paling penting. Yang pertama adalah hubungan Yesus dengan Allah Bapa dan Roh Kudus (masalah trinitas), sedangkan yang kedua adalah tabiat Yesus Kristus, yaitu sifat keilahian dan kemanusiaan-Nya. Kedua pertanyaan ini kemudian menjadi pergumulan gereja selama berabad-abad, bahkan hingga saat ini.
            Untuk keperluan paper akhir semester ini, penulis hendak mengangkat topik yang kedua. Meskipun demikian penulis merasa perlu untuk memberikan pembatasan atas tema besar tersebut, mengingat masalah ini masih terus dipertanyakan dan berusaha dijawab oleh begitu banyak teolog sampai sekarang. Karena itu, paper ini akan membahas secara khusus mengenai pertikaian-pertikaian yang muncul dalam gereja mengenai tabiat Yesus Kristus dan penyelesaiannya melalui Konsili Chalcedon (451M).

BAB II
DESKRIPSI
            Setelah Konsili Konstantinopel[2] (381M) berhasil meredakan permasalahan mengenai masalah trinitas, pertanyaan yang kedua tentang Yesus mulai bermunculan. Hal ini berkaitan dengan sifat keilahian Yesus sebagai bagaian dari trinitas dan sifat-Nya sebagai manusia. Penyebabnya adalah inkoherensi dalam Alkitab sendiri mengenai tabiat Yesus. Di berbagai kesempatan, Alkitab mengungkapkan tabiat Yesus dengan dua hal yang berbeda dan bahkan kontadiktif, yaitu Yesus sebagai Allah atau Tuhan dan Yesus sebagai manusia (Ia bisa benar-benar merasa haus, lapar, kesakitan,dsb)[3].
            Masalah ini juga sering dibahas karena alasan teologis. Dalam konsili konstantinopel, gereja mengakui bahwa Yesus sehakekat dengan Sang Bapa. Pengakuan ini didasarkan atas kesadaran bahwa hanya Allah yang mampu menyelamatkan manusia dan itu berarti Yesus adalah Allah, jika Ia mampu menyelamatkan manusia. Tapi, hal itu tidak berhenti di sana. Untuk bisa mengembalikan manusia kepada Allah, Yesus juga harus benar-benar manusia. Hanya jika Ia, yang sehakekat dengan Allah, bisa benar-benar memiliki tubuh dan darah yang sehakekat dengan manusia, maka manusia bisa kembali kepada Allah melalui tubuh dan darah Kristus.

Pandangan-pandangan tentang kemanusiaan Kristus
            Dari pemahaman di atas, muncul berbagai pertanyaan seperti: Bagaimana kedua sifat yang jelas-jelas bertentangan itu bisa ada dalam satu orang? Jika memang demikian, sampai di mana batasan-batasan kedua sifat itu bisa bercampur?[4]
            Beberapa tokoh gereja kemudian berusaha mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas dan beberapa di antaranya mulai bertikai karena perbedaan pandangan. Berikut ini akan diuraikan beberapa pandangan yang dominan pada masa itu.

            1. Apollinarisme
            Paham ini sudah ada sebelum Konsili Konstantinopel I diadakan, namun masih berkaitan dengan ajaran mengenai tabiat Yesus sebagai Allah dan manusia. Sekitar pertengahan abad IV, Apollinaris dari Laodicea mulai menyebarkan ajarannya. Dalam ajaran tersebut, ia menyangkal bahwa Yesus mempunyai akal manusia. Menurutnya, Yesus telah menjelma dengan memperoleh tubuh dan jiwa manusia, tetapi posisi akal manusia atau "aku" digantikan oleh Logos[5] yang ilahi. Oleh karena itu, Yesus hanya mempunyai satu "kodrat" (ousia/physis)[6], yang memiliki tubuh dan jiwa manusia tetapi digerakkan oleh Logos. Ajaran ini kemudian ditolak oleh Konsili Konstantinopel I karena jika demikian, berarti Yesus tidak benar-benar menjadi manusia dan mustahil Ia bisa menyelamatkan manusia melalui tubuh dan darah-Nya.[7] Pada tahun 377M, Apollinaris dikutuk oleh gereja Roma, disusul dengan kutuk dari konsili tersebut.

            2. Pandangan Nestorius[8]
            Pada tahun 428M, Nestorius diangkat menjadi patriakh[9] di Konstantinopel. Dengan mati-matian, Nestorius membela isi Konsili Nicea dan menentang pengikut Arius serta paham-paham lain seperti adoptianisme, monarkianisme dan Apollinarisme. Ia berusaha untuk menjelaskan dengan caranya sendiri tentang Yesus yang sehakekat dengan Sang Bapa dan benar-benar Allah (menurut Konsili Nicea) dan bahwa Yesus adalah juga manusia baik tubuh, jiwa serta akalnya (menurut tradisi yang berkembang, khususnya dalam mazhab Antiokhia).
            Ia memang sering dianggap sebagai sebab berdirinya mazhab Nestorian, tapi jika dilihat dengan lebih teliti, hal itu tidak mungkin terjadi. Kaum nestorian mengajarkan bahwa pada Yesus ada dua "tokoh" (pribadi/subjek) yang bergabung hanya secara lahiriah, yaitu tokoh manusia dan Firman (Logos). Jadi, Yesus dibagi menjadi dua, yaitu anak manusia dan Anak Allah. Pengajaran ini tidak sejalan dengan pandangan kristen dan oleh karena itu, tidak mungkin disetujui oleh Nestorius yang berpegang teguh pada hasil konsili gereja-gereja. 
            Menurut Nestorius, Yesus memiliki dua kodrat (physis), yaitu kodrat-Nya sebagai manusia dan Allah. Ia mendasarkan pernyataan tersebut dari filsafat Aristoteles yang mendefinisikan physis sebagai keseluruhan ciri-corak dan sifat-sifat sesuatu. Supaya kodrat itu menjadi nyata (memiliki eksistensi), ia membutuhkan "rupa" (prosopon[10]).Tidak ada kodrat yang tidak memiliki rupa, dan karena itu Yesus memiliki dua kodrat dengan rupanya masing-masing. Kedua kodrat itu kemudian menyatu menurut perkenanan dan menghasilkan satu rupa yaitu rupa kristus. Penyatuan ini tidak semerta-merta membaurkan dua kodrat Yesus sehingga tercampur tetapi sekaligus juga bukan sekedar penggabungan secara lahiriah atau kesamaan kehendak. Dikatakan bahwa Yesus adalah Allah sekaligus manusia yang bergabung dan mendapat satu rupa yaitu Kristus Yesus.
            Dalam usahanya untuk menjelaskan tabiat Yesus, Nestorius gagal menghilangkan kesan dualisme Yesus dan bahwa Ia bukanlah sungguh-sungguh satu subjek yang utuh. Ia juga sulit menerima bahwa Logos dapat menderita dan mati, sehingga ia mengatakan bahwa yang menderita adalah Kristus dalam wujud manusia saja.

            3. Pandangan Cyrillus
            Bertolak belakang dengan Nestorius, patriakh Alexandria (412-444M) ini menekankan pada kesatuan Yesus Kristus. Dalam ajarannya, Cyrillus melanjutkan ajaran Anthanasius dan melengkapi seperlunya. Menurutnya inkarnasi adalah Firman Allah menjadi manusia, daging, supaya membebaskan manusia dari kematian dan memberikan kekekalan-Nya sendiri pada manusia[11]. Ia menegaskan bahwa dengan menjadi manusia, Firman Allah itu mengilahikan manusia. Ajarannya ini berangkat dari pemahaman dan tradisi yang ada dalam mazhab Alexandria yang menekankan keeratan hubungan antara dua tabiat Kristus demi kepentingan keselamatan manusia.
            Logos harus benar-benar bergabung dengan kemanusiaan Kristus sehingga keduanya tidak dapat dibedakan. Kemanusiaan Yesus begitu dikuasai oleh Logos, sehingga kehendak Kristus sebagai manusia tidak perlu dibicarakan lagi.[12] Hanya dengan demikian dapat dijamin bahwa manusia dapat diselamatkan melalui sakramen ekaristi.[13] Menurutnya hanya tubuh dan darah Kristus yang benar-benar dikuasai oleh Logos yang memiliki kuasa menyelamatkan manusia.

            Selain karena perbedaan mazhab, pertentangan antara Nestorius dan Cyrillus sesungguhnya didasarkan oleh perbedaan pemahaman mereka atas definisi physis. Nestorius memahami arti kata physis sebagai kodrat yang merupakan ciri, corak atau sifat-sifat sesuatu dan membutuhkan rupa untuk menjadi real, menurut filsafat Aristoteles. Sementara bagi Cyrillus, physis memiliki arti "realitas konkret" atau "suatu individu konkret yang ada. Ketika Nestorius mengatakan bahwa Yesus memiliki dua kodrat, Cyrillus memahaminya sebagai pernyataan bahwa Kristus memiliki dua individu yang berbeda. Sementara Nestorius tidak bisa menerima pernyataan Cyrillus bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat, karena jika demikian, berarti keilahian dan kemanusiaan Yesus berbaur menjadi satu. Hal yang demikian tidak dapat diterima oleh orang-orang mazhab Antiokhia[14].

Konsili di Efesus (431M)
            Pada tahun 430M, pertikaian antara kedua patriakh tersebut sampai ke Roma dan sinode Roma yang saat itu dikepalai uskup Caelestinus I memihak kepada Cyrillus. Cyrillus juga mendapat dukungan dari uskup-uskup Mesir, sehingga ia berani mengirimkan surat keputusan dan ancaman kepada Nestorius dan menggunakan berbagai cara politik untuk memenangkan perkaranya. Sementara itu, Nestorius menyampaikan permohonan kepada kaisar Theodosius II untuk mengadakan sebuah konsili. Dengan dukungan dari pihak barat baik kaisar maupun uskup Roma saat itu, Theodosius II akhirnya menyetujui usulnya. Ditentukan bahwa konsili oikumenis yang ketiga akan diadakan pada tanggal 7 Juni 431 di Efesus[15].
            Dalam konsili ini, dengan dukungan para uskup dari Roma, Cyrillus berhasil mengalahkan Nestorius. Ajarannya dinyatakan sesat oleh gereja dan Nestorius dibuang.[16]

Ajaran Monophysit
            Pada tahun 448M, seorang sarjana teologi bernama Euthyches mulai mengungkapkan pemahamannya mengenai tabiat Kristus. Ajarannya disebut monophysit (mono=satu, physis=tabiat).
             
BAB III
ANALISIS DAN REFLEKSIBAB IV
KESIMPULAN DAN PENUTUP
            Pemahaman yang ada dalam gereja-gereja sekarang ini mengenai tabiat Kristus yaitu sifat ketuhanan dan kemanusiaannya, tidak muncul begitu saja. Proses perumusannya melewati waktu yang panjang dan penuh pertentangan. Bahkan hingga saat ini pun, masalah tabiat Kristus masih terus dipelajari secara khusus dalam ilmu yang dinamakan kristologi. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pendahulu-pendahulu kita telah berjasa besar untuk membentuk rangka dasar pemikiran kita mengenai hal tersebut.


[1] Alister E. McGrath, Theology the Basics (Cornwall: Blackwell Publishing, 2008). hal 61
[2] Informasi lengkap mengenai latar belakang, proses dan hasil dari Konsili Konstantinopel, bisa ditemukan dalam buku karangan Tony Lane, Runtut Pijar (Jakarta: Gunung Mulia, 2007). hal 32-33
[3] Alister E. McGrath, Theology the Basics (Cornwall: Blackwell Publishing, 2008). hal 72
[4] Dr.H.Berkhof dan Dr.I.H.Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2009). hal 56-57
[5] Logoj (Logos) = Firman, perkataan
[6] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah Dogma Kristologi (Yogyakarta: Kanisius, 1998). hal 144-145
[7] Dr.H.Berkhof dan Dr.I.H.Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2009). hal 57
[8] Selengkapnya mengenai pandangan Nestorius bisa dibaca dalam buku karangan Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah Dogma Kristologi (Yogyakarta: Kanisius, 1998). hal 147-150
[9] Patriakh adalah sebutan bagi para Uskup yang derajatnya paling tinggi. "Patriark"http://id.wikipedia.org/wiki/Patriark
[10] prosopon (prosopon) = topeng
[11] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah Dogma Kristologi (Yogyakarta: Kanisius, 1998). hal 152
[12] Christian de Jonge, Gereja Mencari Jawab (Jakarta: Gunung Mulia, 2003). hal 6
[13] Melalui pernyataan ini, cukup jelas bahwa Cyrillus adalah penganut teologi sakramentalistis, seperti yang diungkapkan dalam buka karangan Thomas van den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: Gunung Mulia, 2008). hal 71
[14]  Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah Dogma Kristologi (Yogyakarta: Kanisius, 1998). hal 152-153
[15] Dr. C. Groenen, OFM, Sejarah Dogma Kristologi (Yogyakarta: Kanisius, 1998). hal 155
[16] Dr.H.Berkhof dan Dr.I.H.Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2009). hal 58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar