Senin, 10 Januari 2011

Penyataan Allah dan Kekerasan Dalam Gereja Awal dan Abad Pertengahan: Suatu Tinjauan Sejarah Kekristenan Umum Tentang KEKERASAN

Abstrak
Abad-abad awal kekristenan menjadi saksi serangkaian perdebatan intents tentang makna penyataan Allah di dunia yang penuh dengan kekerasan. Walaupun sebagian umat Kristen bersifat sporadis namun kekerasan terhadap umat Kristen ini merupakan ancaman konstan, karena konflik dengan kekuasaan Romawi yang sedang berlangsung. Kekerasan juga mewabah dalam masyarakat dan agama Helenistis. Kekerasan mendukung praktik penaklukan dan perbudakan. Pax romana dijamin oleh kekuatan militer baik dari luar maupun dalam. Pemakaman gereja tentang penyataan Allah telah memberikan kerangka dasar bagi tanggapan komunitas Kristen terhadap kekerasan masyarakat Romawi-Yunani.
Kata kunci: Kekerasan, Didakhe, Ambigu, Penafsiran

Penafsiran Kekerasan Dalam Alkitab
Kontrasnya perintah-perintah Ilahi untuk melakukan pembantaian di dalam perang penaklukan dan ajaran Yesus dalam Khotbah di Bukit sangat disadari oleh para penafsir Alkitab dalam gereja mula-mula. Disparitas ini seringkali didamaikan melalui sesuatu yang sering kita sebut dengan Alegori. Pada periode bapa-bapa gereja dan Abad Pertengahan kebanyakan orang Kristen beranggapan bahwa Alkitab harus dibaca tidak hanya secara harafiah namun secara alegoris. Khususnya Perjanjian Lama, seringkali diterima sebagai alegori yang merujuk kepada Kristus dan peristiwa-peristiwa Perjanjian Baru, atau sebagai simbol peristiwa-peristiwa di dalam jiwa manusia, atau sebagai bayang-bayang surgawi. Seorang Filsuf dan penafsir Yahudi Philo Aleksandria (22 sM. – 50 M.) mengalegorikan pentateukh untuk menyerasikannya dengan filsafat Platonis. Sampai saat ini juga dilakukan oleh beberapa Dosen Teologi Duta Wacana seperti Gerrit Singgih yang penafsirannya sangat dipengaruhi oleh Kant, Hegel, Kierkergaard, Sarte, Camus dan Kafka yang jelas-jelas merupakan nama-nama besar di kancah Filsafat barat.[i] Selama periode yang sama, filsuf-filsuf helenistis menawarkan penafsiran alegoris literatur-literatur Yunani klasik untuk membuat warisan ini cocok dengan gagasan etis kemudian. Alasannya adalah bahwa penafsir mengakui otoritas teks-teks religius tradisional, namun tidak lagi menerima secara harafiah. Hal ini dipengaruhi oleh konteks Yunani yang terkenal dengan mitos-mitosnya sehingga membuat para penafsir menafsirkannya secara alegoris untuk memperoleh pembacaan yang lebih sesuai. Dengan cara yang sama, Kekristenan telah mengalegorikan kekerasan dalam Perjanjian Lama. Perikop sering kali dilepas dari konteks teks aslinya dan ditafsir sebagai petunjuk bagi peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa abad kemudian. Saya melihat bahwa penafsiran seperti ini telah tumbuh sejak zaman Paulus, yang menafsirkan Hagar dan Sarah sebagai alegori hidup dalam perbudakan dan dalam kebebasan (Gal. 4:21-31).

Seorang teoritikus alegoris yang paling berpengaruh dalam gereja mula-mula seperti Origenes berpendapat bahwa peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus bukan hanya peristiwa historis semata namun juga merupakan lambang bagi realitas yang lain dalam kehidupan orang percaya. Penyaliban, kematian dan penguburan Yesus bukan hanya peristiwa historis melainkan peristiwa masa kini dalam kehidupan orang percaya. Bagi Origenes, arti harafiah adalah bentuk teksnya, atau sebuah arti cerita seperti yang tersurat. Bagi orang yang berpikir sederhana, hal ini sangat cocok. Namun dalam banyak kasus, Origenes percaya bahwa makna harafiah bukanlah pesan yang dimaksudkan Allah untuk disampaikan kepada Jemaat. Berpegang pada makna harafiah dapat menyebabkan orang menghilangkan artinya. Misalnya saja seperti penafsir Yahudi yang menekankan arti harafiah nubuat-nubuat mesianis, dan karenanya tidak dapat mengakui Kristus Yesus sebagai penggenapan nubuat-nubuat tersebut. Tataran makna yang kedua adalah makna ‘psikis’ sebagai inti teks-teks itu. Makna ‘psikis’ ini memberikan penerangan pada jiwa umat Kristen yang sedang berada dalam proses menuju kesempurnaan serta menggerakan mereka untuk menghayati kehidupan Kristen secara lebih penuh. Puncaknya adalah sebuah ‘makna rohani’, yang oleh orang Gnostik Kristen diresapi sebagai sebuah pengertian lebih dalam mengenai keselamatan.
            
Origenes menggunakan kriteria kelayakan terhadap realitas ilahi dan nalar manusia. Apabila suatu perikop menyatakan sesuatu yang tidak layak bagi Allah dan bertentangan secara nalar manusia maka perikop tersebut tidak dapat diterima secara harafiah. Pemahaman mengenai berbagai perang penaklukan merupakan skandal yang tak dapat terbayangkan. Arti sebenarnya pembinasaan bangsa di Tanah Perjanjian adalah penaklukan Kristus atas jiwa manusia. Dengan demikian Origenes dapat mendamaikan perintah-perintah tabiah untuk membunuh musuh dengan ajaran Yesus mengenai tindakan tanpa kekerasan.

Dinas Kemiliteran dan Kekristenan Mula-mula
Terdapat perbedaan pandangan Kekristenan mula-mula terhadap persoalan apakah kekerasan pernah dibenarkan dan apakah umat Kristen dapat berpartisipasi dalam ketentaraan.[ii] Buku Yustinus Martir Dialog dengan Trypho merupakan apologi Kristen paling awal yang yang ditujukan kepada umat Yahudi, yang masih ada. Yustinus menulisnya setelah Apologi yang ditujukan kepada kaisar Romawi. Latar belakangnya adalah diskusi dua hari dengan seorang rabi yang terpelajar, kemungkinan Rabi Tarphon, yang dikenal sebagai penentang orang-orang Kristen Yahudi. Dalam bukunya Yustinus Martir merayakan kemenangan militer Israel di masa awal, namun ia berkata kepada Trypho bahwa umat Kristen telah berbalik dari perang dan setiap bentuk pedang-pedang mereka menjadi mata bijak dan lembing-lembing mereka menjadi alat-alat pertanian (Dialouge with Trypho 139). Tertulianus dan Origenes memahami injil sebagai panggilan bagi umat Kristen untuk menghindari semua bentuk dinas kemiliteran.
            
Origenes menunjukkan persoalan dukungan ilahi terhadap kekerasan di dalam Perjanjian Lama dalam tanggapannya terhadap kritik Celsus seorang Kafir. Ia berpendapat bahwa kekerasan memang diperlukan bagi kelangsungan Israel Purba untuk kelangsungan hidupnya. Tanpa kemampuan bertempur dan melaksanakan hukuman mati, umat Israel tidak akan pernah lestari sebagai sebuah bangsa (Against Celsus 7.26)[iii]. Origenes mengakui sifat perang suci purba yang memalukan dan menafsirkan peperangan seperti yang diperintahkan dalam Perjanjian Lama sebagai cerita alegoris perang batin, perang rohani melawan kejahatan. Hal paling utama bagi Origenes adalah bahwa Yesus sendiri menantang para pengikut-Nya untuk bertindak tanpa kekerasan, melarang pembunuhan dalam bentuk apa pun (ibid. 3.7-8).
            
Meskipun demikian, ada pula orang-orang Kristen yang masuk dinas ketentaraan Romawi. Salah satu cerita masyhur mengisahkan sebuah keajaiban terhadap doa tentara-tentara Kristen. Saat tentara Romawi terancam kekeringan—pada abad kedua—di dalam Legiun XII ada sejumlah tentara Kristen yang berdoa memohon hujan. Maka hujan turun menolong tentara-tentara Romawi, sementara itu menimbulkan kesulitan bagi musuh (Eusebius, Ecclesiastical History 5.5.3-4). Salah satu tentara Konstantinus, yaitu Pachomius, yang kemudian hari menjadi Kristen monastik yang terkenal, bertobat menjadi Kristen karena cinta kasih kawan-kawan tentaranya yang adalah orang Kristen.[iv]

Penyataan Allah dan Konteks Sosial Mula-mula
Kekerasan tidak hanya terjadi dalam ranah kemiliteran (fisik) namun juga sistematik sistem sosial dan ekonomi yang didasarkan pada ketidaksederajatan yang amat dalam serta perbudakan. Sumber-sumber tertulis dari Mesir dan Mesopotamia yang kita miliki telah memadatkan kekuasaan kaum elite yang berkuasa sejak itu. Kekuasaan aristokrat tuan tanah dilimpahkan sebagian besar masyarakat Laut Tengah dan Eropa tradisional kepada massa petani yang amat banyak jumlahnya. Hal ini dikarenakan tidak adanya alternatif realistis yang dapat dibayangkan. Hal ini diterima sebagai sebuah tatanan kodrati masyarakat, yang dilegitimasi dengan kehendak Allah atau dewa-dewa. Dari kalangan nabi dan orang berhikmat Israel serta teladan Yesus, telah muncul cisi yang lebih egaliter yang merupakan tatanan bagi struktur kuno kemiskinan, dominasi dan ekploitasi. Namun implikasi visi ini tidak pernah berkembang secara penuh karena keterlibatan sosial Kristen yang begitu tradisional hanya berusaha menanamkan struktur masyarakat yang memperhatikan humanitas dan kemurahan hati ketimbang berusaha untuk melawannya secara langsung.
            
Kemungkinan kesaksian gereja-gereja mula-mula yang begitu kuat mengenai penyataan Allah terletak pada dinamika sosial komunitas Kristen awal. Diilhami oleh penyataan Allah di dalam Yesus Kristus, komunitas Kristen mula-mula merupakan gerakan sosial yang memberikan kesamaan derajat bagi mereka yang terpinggirkan, menopang mereka yang miskin dan rasa saling memperhatikan begitu kuat, terutama pada saat mengalami wabah.[v] Didakhe adalah suatu peraturan gereja mula-mula yang mengajarkan: “Jangan berpaling dari orang-orang yang membutuhkan, namun berbagilah dalam segala hal dengan saudara-saudaramu, jangan mengatakan bahwa segala hal itu milikmu sendiri”
            
Walaupun persekutuan mula-mula di Yerusalem digambarkan saling berbagi semua kekayaan menjadi milik bersama (Kis. 2:44-45; 4:32-35) namun tanggapan utama gereja awal bukanlah untuk mendirikan sistem ekonomi komunis yang terpisah, melainkan untuk memelihara dana bersama guna merawat orang sakit dan miskin, serta mencukupkan kebutuhan para pengungsi dan pengembara, termasuk mereka yang bukan persekutuan Kristen.[vi]
            
Walaupun perlakuan terhadap perempuan dalam gereja mula-mula bersifat ambigu (bnd. Prinsip kesamaan derajat dalam Gal. 3:28 dan kedudukan perempuan yang subordinatif dalam 1 Kor. 11:3-12; Ef. 5:22-26 dan 1 Tim. 2:11-12), para perempuan Kristen mendapatkan kehormatan dan kedudukan yang lebih besar ketimbang sesama mereka di dunia Romawi-Yunani.[vii] Sebelumnya umat Kristen mula-mula mengutuk praktik aborsi dan pembunuhan bayi perempuan yang lazim dilakukan untuk membatasi jumlah perempuan dalam masyarakat Romawi-Yunani. Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap hidup anak-anak perempuan—yang mengakibatkan proporsi jumlah wanita Kristen menjadi lebih besar dibanding seluruh populasi—merupakan  faktor utama pertumbuhan kekristenan.[viii]
            
Kekristenan mula-mula tidak menolak kekuasaan Kaisar (Rm. 13:1-7); walaupun memang, Yustinus Martir menegaskan bahwa orang Kristen adalah pembantu terbaik dan bersekutu dengan kaisar dalam membangun pranata sosial, namun dengan keras mereka menolak pretensi keilahian jabatan kekaisaran dan dengan demikian menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

Kemartiran dan Penganiayaan
Para penguasa Romawi sering memperlakukan umat Kristen dengan ramah dan toleran, sedangkan penganiayaan secara umum jarang sekali terjadi.[ix] Namun demikian ancaman hukuman mati selalu membayangi umat Kristen mula-mula. Kemartiran oleh Ignatius dari Antiokhia diterima baik sebagai peneladanan penderitaan Yesus Kristus. Ia mendesak agar umat Kristen tidak menggunakan pengaruh mereka untuk menyelamatkan diri dari kematian. Ignatius menghubungkan kesetiaannya sampai mati dengan pemahamannya yang tepat atas diri Yesus sebagai yang Ilahi dan manusiawi. Menurutnya seorang Gnostik dan Doketis tidak dapat menjalani kematian yang kejam, sebab mereka tidak menerima realitas inkarnasi.
            
Kekristenan mula-mula menentang tuntutan Kekaisaran Romawi dalam menyembah simbol-simbol kasiar, namun mereka tidak melawan menggunakan kekerasan. Kesaksian tanpa kekerasan mereka meninggalkan kesan bagi masyarakat Romawi sepanjang waktu itu. Martyr-martyr Lyon pada tahun 177 yang merupakan korban gelombang kekerasan anti-Kristen yang kejam di Gaul menanggung penderitaan yang mengerikan dengan keteguhan hati dan iman mereka. Kesaksian tanpa kekerasan, bahkan hingga kematian, merupakan bentuk pewartaan yang persuasif dan efektif. Dengan menggunakan teori sosial ilmiah, Rodney Stark berpendapat bahwa para martir Kristen membuat pilihan rasional untuk tetap setia walaupun harus mati dan membawa kesaksian mereka merupakan sebuah faktor paling menentukan dalam perkembangan kekristenan.[x]

Augustinus dan René Girard dalam Konteks Kekerasan
Caritas dan cupiditas merupakan dua pusat kasih dari Augustinus yang menjadi pusat penafsirannya. Caritas yang berarti kasih ilahi yang memberi diri dan kasih yang berpusat pada diri sendiri serta cupiditas yang berarti kasih yang membinasakan diri sendiri. Retorika kasih Augustinus ini yang demikian fasih dan berpengaruh, namun berkaitan dengan penggunaan kekuasaan negara untuk menanggapi pelbagaian agama, Augustinus adalah seorang penafsir Allah yang kontrofersial.
            
Augustinus mengajukan analisis Latin klasik mengenai dosa asal, menggambarkan jalan-jalan yang melaluinya kita dapat menemukan bahwa kita terperangkap pada dosa yang dengan kekuatan sendiri tidak dapat kita lepaskan. Girard tampak jelas dalam tradisi Augustinian, terutama ketika berbicara tentang pola sistematik universal tentang kekerasan dan kedustaan. Analisisnya mengenai mimesis[xi] dan kekerasan dapat dipahami sebagai perkembangan kontemporer gagasan Augustinus mengenai dosa asali. Augustinus menganalogikan dua macam kasih tadi sebagai dua kota. Kehidupan dalam dunia ini menurutnya merupakan perjuangan antara kota manusia yang dikuasi oleh cupiditas dengan kota Allah yang dibangun di atas dasar caritas, kasih yang memberi diri serta memiliki pusat dalam Allah dan memiliki model dalam Yesus Kristus. Augustinus dan Girard sependapat bahwa dunia kekerasan dan dunia kasih yang sejati terus menerus saling bergumul sampai akhir zaman.
            
Girard menolak gagasan mengenai diri yang otonom, tidak bergantung pada orang lain. Dalam terminologi Girardian, Augustinus memberi uraian sangat dalam mengenai ke-aku-an mimetik yang telah kehilangan dirinya karena mengikuti model-model semu. Dalam bukunya Confessions, Augustinus sedang mencari model yang tepat bagi pikiran dan keinginannya, dari membaca kisah Cicero, bergabung dengan orang-orang Manichea, bertemu kaum Platonis, hingga perjumpaannya dengan Amborsius. Setiap model mengajarkan Augustinus bagaimana memahami diri sendiri dan apa yang diinginkannya.[xii]
            
Dalam bukunya Augustinus hampir tidak melakukan apa pun sendirian. Pada usia 16 tahun, ia berdoa karena ia berdosa mencuri buah pir bersama beberapa remaja yang lain. Girard berpendapat bahwa kita belajar mengenai keinginan kita bukan dari objek-objeknya sendiri melainkan dari orang-orang yang kita jadikan model mimetik. Diilhami dari kelompoknya, sesungguhnya apa yang dicari Augustinus merupakan kebebasan semu dengan meniru kebebasan Allah; akibatnya ia ingin menjadi seperti Allah, namun usahanya menggapai dan memiliki apa yang terlarang membuat dirinya justru menjadi orang yang sia-sia (Confessions 2.9). Kita mengingat apa yang dikisahkan Kitab Kejadian mengenai taman Eden. Dosa asali menurut konsep Augustinus menangkap kita melalui kisah Adam dan Hawa. Akhirnya, ia bertobat dan menjadi Kristen bersama dengan Alypius temannya; dan ia memperoleh pengelihatan Allah di Ostia bersama Monica ibunya. Augustinus juga memberikan penjelasan yang hidup mengenai cinta kasih sejati, yang hanya ada pada Allah dan dengan demikian meninggalkan rivalitas mimetik dengan model-model dan rintangan-rintangan yang terbatas.
            
Walaupun demikian, Girard dan Augustinus memiliki perbedaan kontras mengenai pembenaran kekerasan. Girard memberikan pembelaan radikal tindakan tanpa kekerasan dengan menegakkan pemahaman bahwa tidak ada kekerasan yang ‘baik’. Dihadapkan dengan pertanyaan apa perang dapat dibenarkan, Augustinus mengemukakan teologi perang yang adil, yang diterima berabad-abad. Augustinus berpendapat bahwa orang-orang benar boleh terpaksa melawan orang-orang jahat. Agar adil, perang harus dimaklumkan oleh penguasa yang adil, alasan yang adil dan tujuan yang benar. Misalnya usaha bangsa untuk mempertahankan diri, serta memulihkan apa yang telah dirampas dengan cara yang tidak adil. Maksud yang benar berarti tidak terdapat motif yang tersembunyi, dan perang hanyalah suatu cara untuk memecahkan masalah. Maka tujuan mengupayakan perdamaian menurut Augustinus tidak dengan sendirinya membenarkan perang, mencari perdamaian dengan jalan penaklukkan.
            
Ketika Bonifasius, gubernur Romawi untuk Afrika, ingin pensiun dari kehidupan militer dan jabatan politisnya, serta menjadi rahib setelah kematian istrinya, Augustinus menulis surat kepadanya, mendorongnya untuk mengikuti kehendak Allah dengan melanjutkan tugasnya sebagai tentara. Augustinus menegaskan bahwa Daud dipuji Allah karena menjadi tentara, Yesus memuji komandan dan pasukan Romawi karena imannya, Kornelius bertobat dan bahwa Yohanes Pembaptis telah berbicara kepada prajurit-prajurit Romawi agar puas dengan upah yang diterimanya; ia tidak berkata kepada mereka untuk meninggalkan pasukannya (Letter 189.4).[xiii] Alasan ini diberikan Augustinus kepada Bonifasius agar tidak pensiun dari aktivitas militernya melainkan melanjutkan perjuangannya. Di kemudian hari, para penafsir Abad Pertengahan mengajarkan bahwa dalam perang yang adil seorang tentara dapat membunuh tanpa dosa.[xiv]
            
Sesuatu yang aneh ketika membaca cerita tentang Augustinus mengenai pemahamannya tentang peperangan. Seolah-olah ia menyekularisasikan sejarah melalui analisisnya tentang dua macam kasih—caritas dan cupiditas. Menurutnya, kerajaan yang besar adalah perampok-perampok yang besar dan mereka tidak menjadi Kristen. Hal ini menyebabkannya menyangkal setiap peran religius apapun bagi sebuah negara. Namun ketika ditentang bidah-bidah Donatis di Afrika Utara, Augustinus berpaling pada kekuasaan negara untuk memusnahkan para lawannya, memenjarakan mereka dan menghancurkan gereja-gereja mereka.[xv] Menjadi Ironis ketika Augustinus sendiri menyimpulkan bahwa kemurahan Kekristenan menuntut adanya sebuah paksaan. Tragisnya, kekristenan Augustinian tidak hanya begitu setia tetapi juga mengkhianati penyataan Allah yang menjadi dasarnya. Adanya pencampur-adukan penyataan kasih Allah yang menderita di atas salib dengan praktik zaman purba untuk menyingkirkan dan menganiaya.

Penyataan Allah dan Konteks Sosial Abad Pertengahan
Kekerasan kemiskinan dan ketidaksetaraan sosial radikal menjadi sebuah kutukan selama Abad Pertengahan. Selama gereja terus-menerus mengungkapkan kepedulian terhadap orang-orang miskin dan orang-orang sakit, umat Kristen Abad Pertengahan beranggapan bahwa dominasi sekelompok aristokrat tuan tanah atas masyarakat merupakan kehendak Allah. Lukas 16:19-31 menjadi sebuah landasan pemahamannya.
            
Dalam Abad Pertengahan awal tidak ada yang membedakan secara tegas antara gereja (ecclesia) dengan dunia (mundus); para kaisar dan raja-raja merupakan tokoh suci yang memerintah dengan kehendak ilahi dan para uskup merupakan pemerintah-pemerintah politis yang telah ditetapkan oleh seorang raja.
            
Kecurigaan masa bapa-bapa gereja terhadap hidup borjuis dalam sifat negatif Abad Pertengahan terhadap para saudagar yang mengambil keuntungan dari pembelian dengan harga murah dan penjualan dengan harga mahal serta bunga (spekulasi real estate) menghalalkan pelanggaran-pelanggaran prinsip ekonomi Kekristenan. Ironis ketika ditengah bertumbuhnya kekayaan dan kekuasaan gereja Abad Pertengahan, zaman keemasan Abad Pertengahan juga menyaksikan serangkaian usaha untuk kembali pada cita-cita kesederhanaan dan pelayanan gereja mula-mula. Pada tahun 1194 hingga 1204 dalam membicarakan hak-hak kaum miskin, para teolog menegaskan hak orang kelaparan untuk mencuri, sebab pada waktu tertentu—yang sangat mendesak dan diperlukan—segala sesuatu adalah milik bersama. Orang miskin dipandang menjadi ‘vikaris Kristus’ yang mewakili Kristus di dunia ini dan yang menjadi perantara bagi orang-orang kaya dalam penghakiman terakhir.[xvi]
            
Vita apostolica (kehidupan kemiskinan sukarela rasuli) menjadi sebuah cita-cita kekristenan Abad ini. Dengan cara yang berbeda-beda—misalnya Peter Waldo, Fransiskus Asisi dan Dominikus Guzman—berusaha keras untuk hidup sesuai dengan cita-cita kemiskinan dan kesederhanaan injili dalam rangka memberitakan Injil. Mungkin yang paling terkenal dari semuanya adalah citra Fransiskus Asisi yang melepaskan semua pakaian dan harta duniawinya di depan ayahnya dan uskup Asisi mempesona masyarakat Eropa, serta mengilhami para pengikutnya untuk meninggalkan semua miliknya dan melayani orang-orang miskin.[xvii] Mungkin kehidupan Fransiskus Asisi ini menurut terminologi Girard tampak sebagai mimesis Kristus yang meninggalkan dunia revalitas mimetik dan mengidentifikasikan dirinya sebagai penderita kusta yang terbuang dan mereka yang paling dihinakan di Italy pada awal abad ke-13.
            
Potensi transformasi sosial radikal yang termuat dalam Alkitab dan teladan Yesus tidak pernah dieksploitasi secara penuh karena umat Kristen pada zaman bapa-bapa gereja dan Abad Pertengahan pada umumnya menerima dasar struktural sosial masyarakat mereka. Praktik umat Kristen tradisional dalam periode bapa gereja dan Abad Pertengahan berupaya untuk meringankan penderitaan orang miskin, sakit dan tertindas. Walaupun hanya sedikit pemikiran untuk mengubah struktur masyarakat itu sendiri guna menghilangkan penyebab terdalam kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Perang Suci di Abad Pertengahan
Kenangan pada kasih Yesus yang tanpa kekerasan merangkul semua orang dan tidak pernah punah pada Abad Pertengahan; seperti telah disaksikan oleh Fransiskus Asisi dan orang lain yang telah meninggalkan senjata militer untuk mencari bentuk pelayanan-pelayanan Kristen yang tanpa kekerasan. Namun ternyata kitab suci sendiri telah meninggalkan warisan ambigu pada gereja, dan tradisi Khatolik Abad Pertengahan mengikuti kedua sisi warisan itu. Penggunaan kekerasan suci secara eksplisit dikuduskan oleh para paus, uskup dan anggota inkuisisi (inquisitor). Pola pemusnahan telah mendominasi hubungan antara umat Kristen dan umat Yahudi selama berabad-abad.
            
Teologi Kristen mengenai perang suci berkembang dengan latar belakang perlawanan terhadap ancaman Islam. Umat Muslim selama ratusan tahun bersifat ofensis terhadap umat Kristen. Tentara-tentara Muslim menyapu seluruh bagian timur Kekaisaran Bizantium, seluruh Afrika Utara dan Spanyol. Umat Kristen berhasil memukul mundur mereka dari Prancis dan akhirnya mengusir mereka dari Spanyol melalui serangkaian peperangan lebih dari 700 tahun. Perang Salib pertama pada abad ke-11 dinikmati umat Kristen sebagai kesuksesan awal yang dramatis, namun kebangkitan Islam akhirnya dapat merampas kembali Yerusalem dan memaksa kerajaan-kerajaan para Pejuang Salib ke posisi bertahan. Turki Ottoman pada tahun 1453 menaklukkan Konstantinopel dan setelah itu tentara-tentara Turki mengepung Vienna pada tahun 1527 dan tahun 1683. Hampir satu millenium umat Kristen Eropa secara periodik melihat Islam sebagai ancaman militer.
            
Teologi Muslim mengenai perang didasarkan pada Al-quran dan suatu pidato awal Abu Bakar, kalifah pertama yang dipilih setelah kematian Muhammad untuk menggantikannya sebagai pimpinan umat. Jihad yang berarti ‘perjuangan’, ‘usaha’ atau ‘usaha keras’; dan perjuangan utama adalah di dalam diri sendiri untuk melakukan kehendak Allah dalam memperluas komunitas Muslim dengan cara-cara damai. Jihad ini memang termasuk di dalamnya peperangan militer untuk mempertahankan Islam, namun tidak termasuk serangan-serangan militer.
           
Abu bakar meletakkan prinsip untuk melakukan ‘perjuangan’ (Jihad) dalam pidato yang mengutip ucapan-ucapan Muhammad sendiri:
Barangsiapa berperang sehingga firman Allah menang, ia berada di jalan Allah. Barangsiapa mati karena berperang di jalan Allah, Allah akan melindungi dirinya dari cobaan kubur....Hal terbaik adalah jika seorang Muslim dapat terkena anak panah di jalan Allah....Pedang adalah kunci Firdaus....Setiap nabi mempunyai biaranya dan biara persekutuan itu adalah Perang Suci di jalan Allah.[xviii]
Namun ucapan tersebut melarang segala bentuk perampokan, mutilasi, pembunuhan wanita, orang tua, anak-anak serta memerintahkan agar semua rampasan diberikan kepada umat.
            
Teologi Kristen mengenai perang salib berkembang secara tahap demi tahap dalam Abad Pertengahan. Tahun 853, beberapa tahun setelah orang Sarasen merampok Roma dan merusak gereja Santo Petrus, Paus Leo IV mendorong tentara Prancis untuk berperang melawan musuh-musuh gereja dan menjanjikan harapan ganjaran surgawi bagi yang mati dalam pertempuran. Memang ini bukanlah doktriner, namun hal ini membuka peluang bagi kukuhnya hubungan antara keselamatan kekal dan kematian dalam perang melawan kaum Muslim. Pada tahun 878, Paus Yohanes VIII memperkuat pemahaman tersebut. Yohanes menjanjikan pengampunan bagi mereka yang mati dalam peperangan melawan musuh-musuh agama Kristen serta menjanjikan ganjaran yang sama seperti yang akan diterima pencuri baik hati, dari Kristus.
            
Kepausan sendiri mendukung peperangan bahkan menjadi pejuang-pejuang perang itu sendiri. Misalnya saja Paus Leo IX secara pribadi memimpin serangan yang gagal melawan bangsa Norman di Sisilia tahun 1053. Paus Alexander II menawarkan peringanan hukuman penebusan dosa (penance) kepada tentara yang bertempur melawan bangsa Moor di Spanyol dan mendukung William dalam invasi Inggris atas Normadia pada tahun 1066. Paus Georgius VII berulangkali menggunakan tamlis perang suci, pertama dalam harapannya melancarkan Perang Salib melawan bangsa Turki di Timur Dekat dan kemudian bagi perjuangannya melawan Kaisar Romawi Suci, Henry IV.
            
Paus Urbanus II adalah tokoh paling berpengaruh dalam Perang Salib I pada tahun 1095. Khotbahnya mengenai perang suci menimbulkan pemahaman teologi mengenai perang suci saat itu berlabuh lebih dalam melampaui gagasan Augustinus mengenai peperangan dan mempergunakan presenden Alkitab Ibrani untuk mensakralkan perjuangan dengan kekerasan melawan Muslim. Ironisnya, dalam daerah-daerah yang di dalamnya umat Kristen dan Muslim berhubungan akrab—seperti di Spanyol, Sisilia, Italia Selatan dan kekaisaran Bizantium—hubungan keduanya sering lebih damai dan toleran.
            
Baldric, Uskup Agung Dal pada awal abad ke-12 menceritakan panggilan dramatis Paus Urbanus II untuk berperang, dalam Konsili Clermont pada tahun 1095:
Di bawah Yesus Kristus Pemimpin kita, hendaklah kamu berjuang untuk Yerusalemmu, dalam barisan perang Kristen, barisan yang paling tidak terkalahkan, bahkan dengan lebih berhasil ketimbang perjuangan anak-anak Yakub pada zaman dahulu, sehingga kamu dapat menyerbu dan mengusir bangsa Turki, yang lebih buruk ketimbang orang Yebus yang berada di tanah ini, dan hendaklah kamu menganggap mati demi Kristus di kota tempat Ia mati demi kita, sebagai sesuatu yang indah....Segala hak milik musuh-musuhmu juga akan menjadi milikmu, sebab kamu akan menjadi harta milik mereka sebagai barang-barang rampasan dan hasil kemenangan bagimu; atau jika kamu berlumuran oleh darahmu sendiri, kamu akan memperoleh kemuliaan kekal.[xix]
Setelah imbauan tersebut, massa berteriak: “Deus Vult” (Allah mengkehendakinya), 27 November 1095. Lalu mendengar hal tersebut, Paus Urbanus menengadah ke atas, dengan syukur ia mengingat janji Yesus bahwa Dia akan hadir jika dua tiga orang berkumpul dalam nama-Nya dan menganggap teriakan itu sebagai seruan perang dalam pertempuran.
            
Persiapan dan Khotbah mengenai Perang Salib I menimbulkan kekerasan baru terhadap orang Yahudi. Orang Yahudi di Orleans, Prancis dituduh telah berkolusi dan komunitas mereka menderita kekerasan setelah Eropa tahu bahwa kalifah al-Hakim dari dinasti Fatimaiyah pada tahun 1009 telah menghancurkan gereja Makam Suci di Yerusalem. Ketika Perang Salib I pecah, tentara Perang Salib sering kali meminjam uang dari orang-orang Yahudi sebagai bekal untuk suatu perjalanan jauh dan akhirnya untuk berperang.            

Terjadi sebuah penyimpangan dalam perang yang ambigu ini. Para tentara Kristen berutang kepada para pembunuh Kristus (orang Yahudi) untuk melawan kaum Muslim sebagai musuh Kristus. Mereka ingin melawan musuh-musuh Allah di Timur, namun mereka malah melirik orang-orang Yahudi, bangsa yang dimusuhi Allah lebih dari bangsa-bangsa lain, hal ini merupakan sebuah kemunduran besar bagi kekristenan saat itu. Kemudian hal itu disusul dengan pembantaian orang-orang Yahudi di Prancis. Mereka disuruh memilih untuk dibunuh atau dibaptis. Orang Yahudi Prancispun mengingatkan saudara-saudaranya di Jerman untuk berjaga-jaga. Count Emich dari Leisingen membiarkan pasukan Perang Salibnya menyerbu orang Yahudi di Spier pada Mei 1096. Namun berkat perlindungan uskup di kota itu, tidak banyak orang Yahudi yang terbunuh di sana. Tak heran jika tentara itu terus membunuh dan menjarah dari kota ke kota di Rhineland. Di Worms dan Mainz, ratusan orang Yahudi terbunuh. Total jiwa yang melayang diperkirakan sekitar 10.000 orang Yahudi di Prancis dan Jerman selama bulan Januari-Juli 1096 dalam hubungannya dengan Perang Salib I.
            
Penyerbuan kepada orang Yahudi ini kiranya menjadi raport buruk kekristenan yang terjadi berulangkali. Hampir dua abad berikutnya pada tahun 1320, Perang Salib Gembala (Shepherds’ Crusade) membuka jalan melintasi Prancis Selatan. Karena lambatnya kemajuan, mereka frustasi dan akhirnya berbalik dengan kegeraman terhadap komunitas-komunitas Yahudi dari kota-kota, terutama di Toulouse, Perigrod dan Carcassone. Pemahaman perang suci dan semangat Perang Salib merupakan kemunduran yang terparah dalam cacatan panjang sejarah dunia antara Kristen dengan Yahudi.

Refleksi Teologis: Sebuah Warisan yang Ambigu
Dalam Epos Babilonia, Enuma Elish, melukiskan penciptaan dunia sebagai hasil peperangan besar antara Maduk dan Tiamat. Dalam puncak peperangan, Maduk mengalahkan Tiamat dengan menghembuskan angin ke dalam mulut Tiamat dan kemudian memisahkan Tiamat menjadi dua bagian, dari tubuhnyalah terbentuk dunia.[xx] Manusia sendiri diciptakan setelah peperangan itu berakhir ketika darah Tiamat tercurah. Setiap tahun, bangsa Babilonia merayakan kemenangan Marduk atas Tiamat. Salah satu implikasi cerita tersebut adalah pembenaran ketidaksetaraan sosial: perbudakan diterima sebagai kehendak para dewa, dan kekerasan merupakan awal mula pembaharuan (baca: penciptaan) perdamaian yang indah.
            
Dalam konteks kekerasan ini kita melihat bahwa bukan hanya epos-epos bangsa lain yang memperngaruhi cara pandang kekristenan, tradisi Kristen dan kitab suci pun bersama-sama dikemudian hari mencipatakan sebuah warisan yang ambigu. Yesus yang meneladankan ajarannya yang tanpa kekerasasn dan menerima penganiayaan tanpa balas dan kenangan para martir Kristen mula-mula mengilhami umat Kristen beberapa abad kemudian. Namun ada pula raport kekerasan dalam kesaksian kitab suci mengenai perang suci. Origenes berpendapat bahwa penerimaan kitab suci secara tidak kritis akan menimbulkan gagasan tentang Allah yang keliru, terutama tentang kekerasan. Ada kriteria yang dapat dimengerti secara harafiah dan secara alegoris. Augustinus menggunakan kriterium yaitu caritas dalam menentukannya. Menurut Augustinus, perikop-perikop yang mengutuk cupiditas namun mengajarkan caritas dapat dipahami secara harafiah; namun yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut haruslah diterjemahkan secara alegoris. Namun dengan ini juga sebenarnya permasalahan muncul, ketika seorang penafsir dapat membalik makna harafiah teks-teks alkitabiah yang memerintahkan kekerasan atas nama agama.
            
Kekerasan atas nama agama ini menjadi sebuah lingkaran setan pembalasan dendam antara umat beragama. Memang tidak dapat kita menilai dengan sangat cepat demikian, namun tampaknya konteks sejarah dan masa kini yang berbeda tetap tidak ada pengaruhnya bagi manusia. Kekerasan tetap terjadi. Bahkan ketika kekerasan itu terjadi akibat masalah politik dan ekonomi atau terorisme, masyarakat sering menghubungkan hal ini atas nama agama dan kepercayaan mereka masing-masing. Contohnya saja Israel dan Palestina saat ini. Timur Tengah menjadi ladang pertempuran sengit yang menurut Jimmy Carter seorang mantan presiden dalam buku The Blood of Abraham merupakan perebutan akan warisan Abraham di Timur Tengah:
Darah Abraham, Tuhan bapak dari mereka yang terpilih, masih mengalir di nadi orang-orang Arab, Yahudi dan Kristen, dan begitu banyak yang telah tertumpah dalam memperebutkan warisan Abraham di Timur Tengah. Darah yang tertumpah di Tanah Suci masih meronta dihadapan Tuhan—tangisan pilu bagi perdamaian.[xxi]
            
Presenden alkitabiah mengenai pengudusan kekerasan dikedepankan ketika kekristenan menjadi kekuatan mapan di Eropa; bukan hanya adil, kekerasan juga dianggap kewajiban yang suci. Kisah mengenai kekerasan atas nama penyataan kristen menjadi sangat panjang ketimbang tinjauan-tinjauan singkat yang sering kita baca atau dengar, namun kenangan terhadap kasih Yesus yang tanpa kekerasan dan merangkul semua orang tidak pernah hilang, seperti disaksikan oleh Fransiskus Asisi dan orang lain yang berpaling dari senjata militer, serta berusaha mencari bentuk pelayanan Kristen yang penuh damai.



Daftar Pustaka
Augustinus, Confessions, Terjemahan R. S. Pine-Coffin. Harmonsworth, England: Penguin, 1961.
Boff, Leonardo. Saint Francis: A Model for Human liberation. New York: Crossroad, 1988.
Brown,  Peter. Augustine of Hippo: A Biography. Berkeley: University of California Press, 1967.
Brundage, James A. Medieval Canon Law and the Crusader. Madison, Milwaukee, and London: University of Wisconsin, 1969.
Cadoux, C. John. The Early Christian Attitude to War: A Contribution to the History of Christian Ethics. New York: Seabury, 1982 [1919].
Carter, Jimmy. Terjemahan Khairul Fuad. Palestine Peace Not Aparheid. Jakarta: Dian Rakyat, 2010.
Daly, Robert J.,dkk. Christian and the Military: The Earth Experience. Philadelphia: Fortress, 1985.
End, Th. Van den. Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung Mulia,2009.
Frend, W.H.C. Martyrdom and Persecution in the Early Church: A Study of a Conflict from the Maccabeans to Donatus. Grand Rapid: Baker Book House, 1965.
Hamel, Victorius A, dkk. Gerrit Singgih: Sang Guru dari Labuang Baji, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.
Hengel, Martin. Property and Riches in the Early Church: Aspects of a Social History of Early Christianity. Philadelphia: Fortress, 1974.
Lewis, Bernard (penyunting dan penerjemah). Islam from the Prophet Muhammad to the Capture of Constantinople. New York dan Oxford: Oxford University Press, 1987.
Origenes. Contra Celsum. Terjemahan. Henry Chadwick. Cambrigde: Cambrigde University Press, 1980 [1953].
Peters, Edward (peny.), The First Crusade: The Chronicle of Fulcher of Chartes and Other Source Material. Philadelphia: University of Pennsylvania, 1971.
Pritchard, James H. (peny.) Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament. Edisi ketiga dengan pelengkap. Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1969.
Stark, Rodney. The Rise of Christianity: A Sociologist Reconsiders History. Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1966.
Swift, Louis J. The Early Fathers on War and Military Service, Wilmington, Del,: Michael Glazier, 1983.


[i] Disarikan dari tulisan yang berjudul Teologi dan Filsafat di ‘Tangan” Pdt. Prof. E. Gerrit Singgih, Ph.D. oleh Wahyu S. Wibowo, Gerrit Singgih: Sang Guru dari Labuang Baji (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010).
[ii] Lihat Louis J. Swift, The Early Fathers on War and Military Service (Wilmington, Del,: Michael Glazier, 1983).
[iii] Origenes, Contra Celsum, terj. Henry Chadwick (Cambrigde: Cambrigde University Press, 1980 [1953]), hlm 242.
[iv] C. John Cadoux, The Early Christian Attitude to War: A Contribution to the History of Christian Ethics (New York: Seabury, 1982 [1919]), hlm. 241.
[v] Lihat Martin Hengel, Property and Riches in the Early Church: Aspects of a Social History of Early Christianity (Philadelphia: Fortress, 1974).
[vi] Rodney Stark adalah seorang sosiolog, baru-baru ini mengemukakan bahwa hubungan etika sosial yang demikian tinggi dan agama merupakan gagasan bahwa di dalam hubungan antara manusia dan yang supranatural dimungkinkan hubungan yang lebih daripada sekedar kepentingan pribadi. Rodney Stark, The Rise of Christianity: A Sociologist Reconsiders History (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1966), hlm. 84-86.
[vii] Ibid., hlm. 103-111.
[viii] Ibid., hlm. 117-128.
[ix] Disarikan dari W.H.C. Frend, Martyrdom and Persecution in the Early Church: A Study of a Conflict from the Maccabeans to Donatus (Grand Rapid: Baker Book House, 1965), hlm. 181-505
[x] Stark, Rise of Christianity, hlm. 163-189.
[xi] Kata Yunani yang digunakan Girard yang berarti ‘tiruan’ (imitasi) untuk menekankan bahwa proses belajar kita mengenai apa yang dapat kita inginkan dari orang lain, yang kita ambil sebagai model. Kebanyakan kebutuhan dasar kita dibentuk oleh aspek biologis, namun cara memenuhi kebutuhan itu tergantung pada model-model tertentu (mimesis).
[xii] Lihat Dr. Th. Van den End, Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2009), hlm. 75-83 dan Augustinus, Confessions, Terj. R. S. Pine-Coffin (Harmonsworth, Inggris: Penguin, 1961) hlm. 52.
[xiii] Helgeland, John, Robert J. Daly dan J. Patout Burns, Christian and the Military: The Earth Experience (Philadelphia: Fortress, 1985), hlm. 76-78.
[xiv] James A. Brundage, Medieval Canon Law and the Crusader (Madison, Milwaukee, and London: University of Wisconsin, 1969), hlm. 19-21.
[xv] Peter Brown, Augustine of Hippo: A Biography (Berkeley: University of California Press, 1967), hlm. 234-243.
[xvi] Suatu teologi liberal yang dikembangkan Abad Pertengahan. Leonardo Boff, Saint Francis: A Model for Human liberation (New York: Crossroad, 1988), hlm. 55.
[xvii] Ibid., hlm. 56.
[xviii] Dari Al-Muttaqi, Kanz 2:252-286, dalam Bernard Lewis, peny. dan terj., Islam from the Prophet Muhammad to the Capture of Constantinople (New York dan Oxford: Oxford University Press, 1987), hlm. 210-211.
[xix] Edward Peters, peny., The First Crusade: The Chronicle of Fulcher of Chartes and Other Source Material (Philadelphia: University of Pennsylvania, 1971), hlm. 9.
[xx] Enuma Elish, 93-140, dalam Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, peny. James H. Pritchard (edisi ke-3, Princeton, N.J.: Princeton University Press 1969), hlm. 67.
[xxi] Dikutip dari pernyataan Jimmy Carter di bukunya yang berjudul The Blood of Abraham. Jimmy Carter, terj. Khairul Fuad , Palestine Peace Not Aparheid (Jakarta: Dian Rakyat, 2010), hlm. xiii.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar